SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG
Tampilkan postingan dengan label Kejadian menggelikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kejadian menggelikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Juni 2009

DIMANA KACA MATAKU.

Suatau hari temanku mau berangkat kerja seoerti hari-hari biasanya. Sebelum menghidupkan mesin mobilnya dia merasa ada yang kurang, belum memakai kaca matanya. Maka dia balik kekamar mencari kaca matanya, tetapi tidak ditemukan. Dia panggil istrinya untuk mencarikan kaca matanya. Istrinya sibuk kesana kemari mencari kaca mata, namun tidak ketemu juga.
“Tadi sebelum mandi aku taruh di meja rias, masak nggak ada sih”.
Masih saja terus mencari kaca mata di kamar-kamar tidur, ruang tamu, teras, tapi tetap saja tidak ketemu. Akhirnya di tanya kepada pembantunya.
“Nik, kamu lihat kaca mata bapak nggak?”
“Kaca mata......?”
“Iya kaca mata yang tiap hari saya pakai”.
“Lha itu.......... yang bapak pakai ........bukan?”
Dirabanya mukanya,.......ternyata kaca mata sudah bertengger.
“Oh iya ......... ya sudah”, agak malu juga dia.
“Ma kaca matanya sudah ketemu” setengah berteriak kepada istrinya, terus kembali ke mobil. Ada-ada saja kaca mata dipakai dicari-cari. Tapi maklum usia sudah setengah abad.
(tsubiyoto)

Jumat, 12 Juni 2009

KODE CABANG

Ini cerita dari temanku yang tugas ke Surabaya di Kantor Telkom dalam rangka komputerisasi Telkom dengan memakai Komputer NCR. Temanku tadi kebetulan bareng dengan konsultan NCR yang orang bule. Bule ini melakukan survey untuk membuat design file dan laporan yang akan dipakai dan dihasilkan komputer. Semua orang sedang mengerjakan pekerjaannya masing-masing termasuk temanku dan si bule.
Tiba-tiba si bule memanggil salah satu staf EDP (kalau sekarang lebih dikenal IT ).
“Sungkono.....”, panggilnya dengan logat bulenya.
Tapi yang dipanggil diam saja. Mungkin karena masalah bahasa dia pura-pura tidak mendengar, biar yang lain yang dipanggil.
“Sung...kooo....noooo....!”, panggilnya lebih keras dan lebih terdengar lebih lucu logat bulenya.
“Ya, tuan.......”, temanku senyum-senyum mendengar jawaban tersebut.
“How many digits for Kode Cabang”
Dengan tergagap mas Sungkono menjawab : “Surabaya......, Malang...., Kedirii......Banyuwangi.........”, menyebutkan sejumlah Cabang di Jawa Timur, yang segera dipotong oleh si bule.
“No..., no...., no...., Sung..ko..no........ I mean how many digits”.
“Oh, ... two ....two digits”
“Oke, thanks”.
Legalah mas Sungkono.

(tsubiyoto)

Juara duniapun tidak bisa.

Waktu itu aku sedang menginap di salah satu villa di kawasan Puncak bersama teman-teman kantor. Halaman villa cukup luas. Ada kolam renang dibelakang, ada lapangan tenis dan lapangan badminton disamping. Sore itu kami bermain olah raga. Ada yang main tennis ada yang main badminton. Aku mula-mula main badminton. Selesai main badminton aku nonton teman-teman yang sedang main tenis.
Setelah mereka selesai aku dan salah satu teman iseng-iseng main pukul-pukul bola, karena sama-sama tidak bisa main tenis.. Karena dua-duanya “bego” maka bola lebih sering keluar lapangan . Suatu saat teman mainku memberi umpan yang cukup enak untuk dikembalikan. Maka aku pukul dengan sekeras-kerasnya. Namun anehnya aku tidak mendengan suara bola jatuh ketempat lawan atau jatuh dibelakangku. Aku celingukan mencari bola sambil nanya : “Mana bolanya?”. Anehnya temanku bukannya menjawab malah tertawa terpingkal-pingkal, demikian juga anak-anak dan teman lain yang melihat semua tertawa sambil nunjuk ke aku. Setelah aku cari-cari ternyata bola menempel diraket, pas ditengah-tengah lobang bentuk segi tiga pada rangka raket. Maka akupun jadi terpingkal-pingkal juga.
Capek main pukul-pukulan bola dan capek mungut bola maka kami kumpul dipinggir lapangan. Teman-teman masih saja tertawa dam leledek saya atas kejadian tadi, lalu aku bilang “Ivan Lendl saja nggak bisa melakukan seperti saya tadi”. Ivan Lendel adalah pemain top saat itu.
(tsubiyoto)

Kamis, 11 Juni 2009

TERNYATA SAMA-SAMA TERBUKA

Waktu itu tahun 1976 aku tugas ke Bandung untuk melakukan pelatihan penggunaan mesin Front Office Cashier di N.H.I. Yang ikut pelatihan bukan mahasiswa tetapi dosennya (nggak nyombong lho...) NHI adalah National Hotel Institute tempat pendidikan bagi para ahli perhotelan, sekarang mungkin namanya sudah berubah. Aku menginap di hotel Braga. Sesuai namanya hotel tersebut terletak di jalan Braga,jalan yang dulu sangat terkenal. Aku pilih kamar didepan yang menghadap ke jalan karena kalau duduk santai diteras bisa sambil cuci mata, meskipun halamannya agak luas. Selain itu kalau ada tukang jualan makanan, kalau mau tinggal panggil saja dari teras. Sedangkan Front Office nya berada agak kedalam. Hotel ini saat itupun sudah termasuk kuno, mungkin peninggalan jaman kolonial. Sekitar lima hari akau menginap disitu.

Hari terakhir tugas di Bandung aku mau bereskan tagihan hotel. Sebelumnya aku ganti celana pakai jeans biar terlihat santai. Saat menuju Front Office aku melihat wanita muda cantik yang juga mengenakan celana jeans. Dari jarak sekitar 6 meter wanita itu senyum-senyum melihatku, namun pandangannya selain kearah wajahku juga kearah bagian agak bawah tubuhku. Aku nggak tahu maksudnya dia senyum-senyum. Aku perhatikan ternyata retsluiting celananya terbuka. Aku jadi berpikiran jelek apakah dia sengaja “memancing-mancing” . Aku tidak sempat memberi tahu tentang resluitingnya karena dia dari arah utara keselatan, sedang aku dari arah barat dan tidak sempat berpapasan langsung.

Sekembali dikamar aku penasaran kenapa wanita tadi melihat kearah bawah tubuhku. Ternyata ..................ya ampun ........... resleting celanaku tidak terkancing. Jadi wanita tadi senyum-senyum karena melihat resletingku terbuka. Namun dia nggak sadar bahwa celananya juga resletingnya terbuka. Aku nggak tahu apa reaksinya setelah dia tahu. Kemungkinan tertawa sendiri dan malu sendiri. Yang aku heran kok bisa sama-sama resletingnya terbuka bisa berpapasan tapi masing-masing tidak sadar.

( tsubiyoto )

RENCANA KERJA

Waktu itu aku bekerja di perusahaan agen tunggal komputer asal Amerika. Disitu boss-nya beberapa orang asing, termasuk di bagian saya. Suatu ketika Boss-ku lewat diruang kerja kami. Melihat salah satu temanku agak santai dia lalu menghampiri. Kemudian ditanyakan tentang jadual pembuatan program dan pelatihan operator yang menjadi tugasnya. Temanku segera mengeluarkan jadual rencana kerja . Setelah diperhatian dan ditanya sana sini, boss bilang cukup bagus dan kemudian bertanya
“ When do you start?”
“Next week” , jawab temanku. Hari itu hari Jumat maka dijadwalkan mulai hari Senin.
“And finish?”
“Last week” jawab temanku yakin.
“Ha ??? si-bule terbelalak sambil senyum-senyum.
“So you already finish before start.” komentar bule sambil ketawa, tapi dia juga maklum soalnya bahasa Inggris kami memang berantakan kalau ngomong.
Setelah boss pergi aku tanya sama temanku “Apa sih maksudmu kok bilang selesainya last week”.
“Maksuku mau bilang selesainya pada minggu terakhir bulan ini”.
“Oh ...”.

(tsubiyoto)

Tigo Suku

Kejadian ini sudah lama di pertengahan tahun tujuhpuluhan. Saat teman saya ditugaskan ke Padang untuk melatih operator mesin pembukuan di Bank Indonesia Cabang Padang. Hari pertama mau bertugas dari hotel dia mau naik delman, kendaraan yang masih banyak dijumpai waktu itu. Sebelum naik bertanyalah dia kepada pak Kusir,
“Pak berapa ke Bank Indonesia?”
“Tigo suku, ayolah”, jawab pak kusir.
Temanku ini tidak mengerti bahasa Padang, namun dia tidak mau bertanya. Dia pikir-pikir tigo suku sama dengan tiga setengah. Waktu itu kalau naik becak atau delman masih sekitar ratusan rupiah. Jadi tiga setengah artinya tiga ratus lima puluh. Namun karena sebelumya temanku itu sudah menenyakan kepada pegawai hotel bahwa jarak antara hotel dengan Bank Indonesia cukup dekat, maka ditawarnya
“Pak dua ratus rupiah aja ya?”
“Ayolah naik” jawab pak kusir (mungkin dengan muka berseri)
Tidak berapa lama sampailah didepan Bank Indonesia, dan dibayarlah Rp.200,- kepada pak Kusir.
Setelah melapor ke Kepala Bagian Pembukuan, kemudian ditunjukkan tempat mesin dan para calon operator yang akan ikut pelatihan. Pelatihan tidak ada hambatan karena peserta memang sudah biasa menjalankan mesin pembukuan, hanya sedikit ada perubahan program dibanding program yang lama.
Saat istirahat karena masih penasaran dengan “togo suku” temanku bertanya kepada salah seorang operator :
“Kalu tigo suku itu artinya berapa sih pak?”
“Tigo suku arti sebenarnya adalah tigo adalah tiga sedangkan suku artinya setengah rupiah. Jadi tigo suku artinya satu setengah rupiah. Namun untuk sekarang artinya seratus lima puluh rupiah. Memang ada apa sih pak kok nanya tigo suku”. Maka diceritakan kejadian pagi tadi. Maka meledaklah ketawa semua operator termasuk temanku. Itulah akibatnya tidak tahu tapi tidak mau tanya.
Cerita temanku itu mengingatkan saya waktu kecil sering menggunakan istilah bahasa Jawa yaitu “telung suku” yang artinya sama persis dengan “tigo suku”.
(tsubiyoto)

Sabtu, 30 Mei 2009

Untung namamu .......

Aku punya saudara namanya Mohammad Machmud Dia ini mempunyai sifat agak cuek. Suatu saat dia mau kerumah temannya yang tinggal di komplek militer. Seperti umumnya komplek militer di pintu masuk pasti ada penjaganya walaupun sudah bulan jam kerja. Sore itu waktu melewati jalan masuk komplek tersebut, Amir tidak melihat ada yang jaga, maka dia terus nyelonong saja tanpa menghentikan motornya. Tiba-tiba terdengan ....priiiit, .... priiit, .......priiit. “Berhenti !!!”.
Setelah berhenti dengan jantung deg-degan menuju pos dan dalam hati berkata “Wah pasti disuruh push up nih.”.
“Mau keman kamu. Kenapa kamu nyelonong saja!”.
“Saya kira tidak ada yang jaga pak.”
“Lha aku ngapain di pos, kalau bukan jaga. Mana KTP mu”.
Setelah menerima KTP Machmud, Prajurit jaga tersebut memperhatikan KTP kemudian menatap Machmud. Begitu dilakukan sampai tiga kali. Machmud sudah pasrah pasti disuruh push up, tinggal disuruh 20 kali, 30 kali atau berapa. Sebab biasanya kalau ada anak muda yang lewat disitu melakukan pelanggaran biasanya kena hukuman push up.
Tiba-tiba pak Prajurit itu berkata :
“Untung kamu, ........ namamu sama dengan namaku, .......kalau tidak aku suruh push up 50 kali kamu”.
Dengan terbengong bengong ...... Machmud menerima KTP nya kembali sambil memperhatikan tulisan pada baju prajurit dibagian dada sebelah kanan. Disitu tertulis M. MACHMUD nama pak prajurit jaga tersebut.
“Terima kasih pak.”.
“Ya, tapi lain kali kalau kesini lapor dulu. Kalu nyelonong lagi aku suruh push up kamu 100 kali.